Halo, saya rizal
Lihat profil


Tag

Syndicate content

Tambahkan ke My Dada

Tambahkan ke My Dada

Share your contents

De.licio.us

Menjadi Orangtua Efektif

by rizal (12/09/2007 - 21:00)

"Bungsu saya yang berusia 2 tahun suka mencela orang lain dengan mengatakan... Ma lihat deh orang itu gemuk ya...aduh malu sekali rasanya. Bagaimana saya mesti bersikap?" ujar Nia, ibu dua anak usia 5 dan 2 tahun.

Lain lagi kisah Mia, yang bingung menghadapi pertanyaan si Sulung (9), yang mulai tanya-tanya 'menyerempet' soal seks. "Bagaimana sih adik bayi dibuat? Katanya Mama mesti pacaran ya sama Papa..." ujar Mia yang risau bagaimana harus menjawab pertanyaan sulung yang memang kritis, baik di keluarga atau sekolah.

Nah, terdengar familiar kan? Anda yang kini menjadi orangtua tentu sering menghadapi pertanyaan kritis dari buah hati yang menuntut jawaban. Jika Anda salah menjawab atau bersikap, wah akibatnya bisa terbawa sampai anak dewasa lho.
"Berikan jawaban yang sesuai dengan tingkatan usia anak. Jangan memberikan jawaban yang punya standar ganda yang malah membingungkan anak. Anak sekarang kritis, jadi orangtua juga harus pintar," ujar Dr. Frieda Mangunsong, M.Ed.Psi, Dosen dan Ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dalam seminar Dancow Parenting Center (DPC)* di Jakarta, pertengahan Agustus lalu.
Untuk pertanyaan mengenai seks, Frieda menyarankan anak diberi pengarahan sesuai tingkatan usia. "Tidak usah pakai teori muluk-muluk seperti pertemuan sel telur dan sperma yang sulit dibayangkan anak usia 9 tahun," ujarnya.

Berikan saja jawaban bahwa orang yang sudah menikah, seperti papa dan mama, boleh memiliki anak. Namun bagi yang belum menikah, tidak boleh. "Bisa juga memasukkan unsur moral dan agama, antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan jika seseorang tidak terikat tali perkawinan atau sebaliknya," imbuh Frieda.

Bagaimana jika anak suka 'mencela' orang lain ? Bagi si 2 tahun sebenarnya dia belum paham bahwa perkataannya menyakiti orang lain. Namun Anda perlu menekankan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan dan jangan diulang lagi lain kali. Jika orang yang 'dicela' itu mendengar komentar si kecil, mintalah maaf padanya, namun jangan berlebihan.

Shahnaz Haque, presenter dengan tiga putri, pernah punya pengalaman serupa soal perilaku anak. Naz mengaku anaknya pernah mengatakan hal yang kurang sopan saat ditanya mengenai hobinya, yang dijawab dengan--maaf--'kentut.' Lantas apa jawaban Naz sebagai orang tua untuk 'menetralisir' kondisi? Ternyata Naz memilih pasang wajah datar, pura-pura tidak terpengaruh oleh jawaban 'aneh' si anak. Namun setelah itu Naz akan memberi tahu bahwa jawaban itu kurang tepat, dan memberikan alternatif jawaban untuk si kecil

Mungkin Anda punya pengalaman yang lebih heboh lagi ? Saya yakin demikian. Hal ini diiyakan Frieda, yang menyatakan peran dan tantangan orangtua masa kini semakin besar, seiring dengan makin kritisnya anak. Cara membesarkan dan mendidik anak akan sangat memengaruhi perkembangan mental buah hati. "Makanya menjadi orangtua efektif itu sudah menjadi keharusan," ujarnya.

Menjadi orangtua efektif ternyata tidak sesulit yang Anda kira, hanya memang dibutuhkan ketekunan dan kemauan keras untuk mewujudkannya. Dancow Parenting Center berbagi 10 kiat menjadi orangtua efektif. Yuk kita simak:
1
Kenali anak
l
Karakternya
  Setiap anak itu unik dan berbeda satu sama lain. "Sebagai orangtua, Anda harus mengenali karakter anak, apakah dia pemalu atau periang. Perlakukan anak sesuai karakternya, jangan paksa anak untuk menjalani karakter lain, apalagi membanding-bandingkan," pesan Frieda.
l
Perasaannya
  Cobalah berempati pada anak. Saat dia ada masalah ajaklah berdiskusi sebagai teman 'curhat' yang dapat memberi solusi, bukannya mengintimidasi
l
Perkembangannya
  Sebagai orangtua Anda harus siap jika si usia 3-4 tahun mulai ingin naik tangga sendiri dan bersikap mandiri. "Dukunglah ia, jangan malah menakut-nakuti, namun harus tetap ada yang mengawasi aktivitas anak agar tidak berisiko pada keselamatannya," saran Frieda
l
Mendengarkannya
  Cobalah menjadi pendengar aktif dengan memberi komentar seperti,"Ya, mama tahu kamu sedang kesal."
2
Hargai perilaku baik
l
Terapkan positive parenting
  Saat anak berperilaku baik, hargai dan pujilah sebanyak-banyaknya, namun saat anak berbuat kesalahan, hukumlah sesedikit mungkin. "Kenali dan beri pujian terhadap semua hal baik yang dilakukannya, jangan tunggu sampai anak melakukan hal khusus. Pokoknya jangan pelit memberi pujian langsung," tandas Frieda.
l
Berikan sesuatu yang menyenangkan
  Saat anak melakukan tugasnya dalam jangka waktu tertentu, ajak dia ke tempat yang disenangi atau beri sesuatu yang memang disukainya secara berkala. Selain itu, tambah jangka waktu untuk mengembangkan perilaku baik. Bagi anak yang bersekolah, jangka waktu bisa diterapkan untuk meningkatkan prestasi yaitu 3 bulan (mid semester, 1 semester dan prestasi 1 tahun.

Sumber : http://www.hanyawanita.com


Komentar




(Masukkan url blog dan website pribadi anda )

Masukkan teks yang anda lihat ke dalam box

(Hal ini dilakukan untuk mencegah spam)